Jamie Cullum dan konsep segar Crossover Jazz

Tags: , , , , , ,
Published on 11 November 2010

Apabila Anda adalah seorang penikmat musik crossover jazz sejati, Anda pasti mengenal baik sesosok musisi/penyanyi mempesona, Jamie Cullum. Di albumnya yang ke-5 ini ia menyajikan sebuah konsep segar dari 12 tracklist yang dikemas kedalam sebuah studio album berjudul The Pursuit.

Judul albumnya itu sendiri diambil dari sebuah novel karya Nancy mitford berjudul ‘The Pursuit Of Love’. Album yang di produksi dibawah asuhan produser Greg wells dan Martin Terefe ini, dirilis pada bulan November 2009 di UK dan dirilis di US pada pertengahan maret 2010 dengan single pertamanya I’m All Over It.

Sedikit berbeda dengan album sebelumnya ‘Catching Tales’, yang beberapa lagunya didominasi oleh nuansa sentuhan electronic dan gaya bermain yang terasa lebih meledak-ledak. kali ini Cullum lebih mendewasakan musikalitasnya ke arah yang lebih soft dan ngepop tanpa meninggalkan pakem-pakem jazz yang dia usung dari awal.

Sebagai gambaran dari genre crossover jazz yang kini sedang banyak digemari oleh pencinta jazz kalangan muda, rythm section dan harmoni yang ia mainkan di album ini lebih natural untuk didengar. Akan tetapi dari permainan piano yang terlukis di setiap lagu, Cullum lebih banyak mengutamakan gaya traditional voicing daripada modern voicing yang apabila di dengar, nuansa jazz mainstream di tiap lagunya terasa kental. Interval, ritmik serta minimnya outside scale menambah khazanah mainstream di album ini.

Apabila mendengar track pertama dari album The Pursuit, mengcover karya Cole Porter ‘Just One Of  Those Things’ yang bernuansa jazz mainstream pekat beserta khas brass sectionnya, saya amat yakin para pendengarnya tidak akan terlalu tercengang, karena komposisi semacam itu sering didengar di album-album Cullum yang sebelumnya.

Coba langsung menuju ke track kedua, ‘I’m All Over It’ yang dirilis sebagai single hit pertama. Padanan lirik yang mudah diingat serta racikan musik yang apik membuat lagu ini menjadi layak dinomor satukan. Sangat nikmat terasa bila adanya kombinasi sinergis antara musik dan lirik yang bercerita ringan tentang kisah pria dewasa yang tidak ingin kembali pada mantan kekasihnya namun dikemas secara eksklusif dan jenaka. Cukup putar 2 kali di track itu dan selamat terngiang-ngiang lalu bernyanyi sambil mengendarai mobil menuju kantor, tempat dimana Anda bekerja.

Masih bertahan di scene berangkat menuju kantor sembari mengendarai mobil dan menyeruput kopi hangat. Teruskan ke bagian track ketiga ‘Wheels’ yang membuat nuansa pagi hari semakin hidup dan segar. Pemilihan brass stick pada instrument drum terdengar tepat guna dalam penyempurnaan lagu ini.

Album yang direkam di Los Angeles studio dengan label Universal International ini juga mengcover lagu dari Rihanna ciptaan Michael jackson ‘Don’t Stop The Music’. Namun sayangnya, entah mengapa di cover song tersebut, nuansa yang disajikan terdengar kurang menggigit, padahal aransemen dan pembawaan vokal Cullum sudah sangat mewah, mungkin karena pembawaan lagu nuansa pop yang identik terdengar lurus dan membosankan dengan khas pengulangan melodi sebagai nilai komersilitas lagu tersebut.

Akan tetapi, apabila mendengar track ‘Mixtape’, bersiaplah untuk bersemangat menggerakkan badan dengan tempo upbeat gaya rock. Di bagian akhir lagu tersebut terdapat gimmick vocal untuk sing along yang juga melibatkan suara Sophie Dahl, istri Jamie Cullum sebagai backing vocal.

Siapapun penyuka beat funk, tidak usah khawatir. Cullum melakukan sebuah sesi  eksperimental di nomor ‘We Run Things’. Ritmik funk yang dimainkan secara kalem dan  membuat lagu ini tetap asik untuk dinikmati saat santai.

Suasana relaksasi ala musik jazz akan terjadi tatkala menikmati ‘If  I Ruled The World’, ‘Love Ain’t Gonna Let You Down’, ‘I Think I Love’ dan ‘Not While I’m Around’. Sangat cocok didengar saat lelah setelah menghadapi sekian banyaknya kesibukan.

Warna yang variatif dari sekian track yang direkam di dalam The Pursuit digambarkan di nomor terakhir ‘Music Is Through’. Beat gaya disko serta permainan electone yang apik dengan sedikit raungan sythesizer gaya 80an membuat lagu ini menjadi sangat bersahabat dengan suasana metropolis di malam hari. Sebuah racikan crossover yang sangat  apik untuk siapapun yang menikmatinya. Track tersebut bisa saya sebut sebagai sebuah penutup alur yang sempurna.

Gaya serta karakter vokal Jamie Cullum yang khas, saya jamin akan menghanyutkan serta menenggelamkan setiap orang yang mendengarkannya kedalam palung kenikmatan musik jazz yang paling dalam.

Cover album yang didesain sederhana, namun mencitrakan isi album yang mewah terlihat cukup match dengan keidentikan musik jazz itu sendiri. Hanya sayang, bila dilihat lebih detil pada sosok Jamie Cullum yang terpampang jelas dengan sentuhan efek berlebihan di halaman artwork, terlalu terlihat overrated dengan composing ala photoshop professional. Untuk imaging yang mengutamakan komersilitas, cukup menarik untuk dijadikan pemikat perhatian.

Secara kelayakan, The Pursuit adalah sebuah Album yang sangat wajib untuk dimiliki para pencinta jazz. Adalah sangat disayangkan apabila hanya mengikuti album ini di bagian single hitnya saja. Jamie Cullum selalu berhasil membuktikan dirinya sebagai musisi crossover jazz sejati dengan sekian eksperimen hebatnya. Ingin sebuah sensasi jazz segar termodern dengan nuansa mainstream? Maka The Pursuit akan menjawab semuanya.

Penikmat jazz,
Lafa Green

Reply

Comment guidelines, edit this message in your Wordpress admin panel